Advertisement

Thursday, October 1, 2026

Ini Kriteria Guru yang Berpeluang Mendapatkan BSU Rp 900 Ribu Pada Kuartal Keempat 2026!




Guru honorer berpeluang mendapatkan BSU 900 ribu rupiah yang akan dicairkan pada kuartal keempat 2026, namun harus memenuhi kriteria sebagai pekerja BPJS Ketenagakerjaan dengan gaji di bawah batas tertentu, saat ini rincian spesifiknya belum diumumkan secara resmi.

Berdasarkan informasi terbaru, pemerintah Indonesia akan mencairkan kembali Bantuan Subsidi Upah (BSU) pada kuartal keempat 2026 (Oktober-Desember), dengan total bantuan 900 ribu rupiah per orang, disalurkan dalam satu kali pembayaran sekaligus.

Apakah Guru Honorer Berpeluang Mendapatkannya?

Ada peluang, tetapi tunduk pada kriteria.

Jenis BSU yang akan dicairkan pada kuartal keempat ini adalah BSU umum dari Kemnaker, berbeda dengan BSU khusus guru dari Kemendikdasmen atau Kemenag. Berdasarkan referensi dari penyaluran tahun 2025, kriteria utamanya meliputi:

  • Terdaftar sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan

  • Gaji bulanan di bawah 3,5 juta rupiah atau di bawah upah minimum regional

Jika guru honorer telah memenuhi kedua persyaratan ini (misalnya guru honorer di sekolah swasta dengan gaji rendah dan mengikuti BPJS Ketenagakerjaan), maka secara teori ada peluang untuk mendapatkan BSU ini. Namun hingga saat ini pemerintah belum mengumumkan secara resmi rincian spesifik penerima BSU kuartal keempat.

Guru honorer dapat memperhatikan pengumuman resmi dari Kemnaker, atau melalui situs web bsu.kemnaker.go.id serta mengecek status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sendiri. Jika memenuhi kriteria "gaji di bawah 3,5 juta rupiah + peserta BPJS Ketenagakerjaan", kemungkinan besar akan menerima bantuan ini.

Sumber : red

Friday, September 18, 2026

Pemerintah Pastikan Guru PPPK Paruh Waktu Tetap Aman Meski Tidak Lolos Uji Kompetensi

 



JAKARTA – Pemerintah memastikan bahwa status kepegawaian bagi sekitar 172.000 guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu tidak akan dicabut, meskipun mereka nantinya dinyatakan tidak lulus dalam tes yang sedang disiapkan.

Kepastian ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian usai menghadiri rapat koordinasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis (17/9/2026). Rapat tersebut melibatkan pimpinan DPR RI, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), serta Kementerian Keuangan.

Menurut Tito, tes yang disiapkan merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengangkat para guru PPPK paruh waktu menjadi pegawai penuh waktu di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Namun, ia menegaskan bahwa kegagalan dalam tes tersebut bukanlah akhir dari segalanya bagi para guru.

"Kesimpulannya, mereka akan diupayakan mengikuti semacam tes. Jika lulus, mereka akan dijadikan pegawai Kemendikdasmen. Namun, jika tidak lulus, status mereka tetap dipertahankan. Tidak ada pemecatan atau perumahan," ujar Tito kepada awak media.

Tito juga menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skema pembiayaan bagi para guru PPPK paruh waktu ini melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini disampaikan Tito untuk menegaskan bahwa tidak ada kendala fiskal dalam menjaga kesejahteraan para guru.

"Pembiayaannya dari Kementerian Keuangan. Tadi Wakil Menteri Keuangan hadir, begitu pula perwakilan Kemendikdasmen. Intinya, pembiayaan bersumber dari APBN," jelasnya.

Lebih lanjut, Tito memberikan kelonggaran bagi para guru yang belum berhasil lolos pada tahun ini. Mereka dipersilakan untuk mengikuti tes kembali pada tahun berikutnya.

"Jika tidak lulus tahun ini, mereka boleh ikut lagi tahun depan. Intinya, pemerintah ingin memberikan ketenangan kepada ASN, baik yang paruh waktu maupun penuh waktu, terutama para guru," tambah Tito.

Ketika ditanya mengenai ada tidaknya kuota tertentu dalam pengangkatan menjadi pegawai penuh waktu, Tito menyerahkan detailnya kepada Menteri PAN-RB. "Itu tergantung hasil tesnya. Untuk detailnya, silakan tanyakan langsung kepada Bu MenPAN yang lebih memahami," pungkasnya.


(Sumber: Kompas.com)

Friday, September 11, 2026

Seleksi Guru SILN dan Pendidik CLC Segera Dibuka, Siapkan Diri Sekarang!

 



Jakarta – Kabar gembira bagi para pendidik di Tanah Air. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan bahwa seleksi guru dan tenaga kependidikan untuk Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) serta pendidik tetap Community Learning Center (CLC) akan segera dibuka.

Langkah ini menjadi angin segar bagi para guru yang ingin mengabdikan diri dalam layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di perantauan. Program ini menjangkau 13 SILN yang tersebar di sembilan negara, serta 302 titik CLC di wilayah Sabah dan Sarawak, Malaysia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kanal resmi Ditjen GTK, SILN merupakan sekolah yang melayani pendidikan bagi anak-anak Indonesia di berbagai negara dengan tetap mengacu pada kurikulum nasional. Sementara itu, CLC adalah pusat layanan belajar sederhana yang didirikan untuk memberikan pendidikan jenjang SD dan SMP bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI), terutama yang berada di kawasan perkebunan di Sabah dan Sarawak.

Adapun rincian 302 titik CLC tersebut meliputi 240 CLC di wilayah Sabah dan 62 CLC di wilayah Sarawak. Keberadaan CLC menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memastikan akses pendidikan tetap terbuka bagi anak-anak Indonesia, meskipun berada jauh dari tanah air.

Meski demikian, calon peserta diimbau untuk bersabar menunggu informasi resmi. Pihak Ditjen GTK menegaskan bahwa rincian mengenai persyaratan peserta, jadwal pendaftaran, tahapan seleksi, hingga dokumen yang harus disiapkan masih akan diumumkan kemudian melalui kanal komunikasi resmi.

"Masyarakat diharapkan berhati-hati terhadap informasi yang mencantumkan persyaratan atau jadwal seleksi sebelum adanya pengumuman resmi dari Ditjen GTK," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari akun Instagram @ditjen.gtk.kemdikbud.

Seleksi ini menjadi peluang emas bagi para tenaga pendidik yang memiliki semangat tinggi untuk berkontribusi dalam mencerdaskan generasi bangsa di kancah internasional. Para calon peserta disarankan untuk terus memantau kanal resmi Ditjen GTK Kemendikdasmen guna memastikan informasi yang digunakan saat mendaftar merupakan ketentuan terbaru.

Dengan dibukanya seleksi ini, diharapkan semakin banyak guru berkualitas yang siap mengabdi dan membawa nama baik pendidikan Indonesia di mata dunia. (*)



Hasil PISA 2025: Indonesa Masih Bertahan di Grup Bontot ASIA

Gambar Ilustrasi Pelajar

 JAKARTA – Hasil evaluasi pendidikan internasional Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 resmi dirilis. Laporan terbaru yang dipublikasikan oleh IDT Community ini menyajikan potret komprehensif mengenai capaian, tantangan, serta peluang pendidikan Indonesia di kancah global.

Berdasarkan data yang dihimpun, skor Indonesia pada PISA 2025 menunjukkan tren positif pada beberapa domain, meskipun masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Skor Sains Indonesia tercatat naik 6 poin menjadi 389, dan Reading naik 7 poin menjadi 365. Namun, skor Matematika mengalami penurunan 2 poin menjadi 364. Meski demikian, capaian ini menegaskan bahwa Indonesia masih harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan dari rata-rata negara Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Keterlibatan dan Dukungan Guru Meningkat

Salah satu sorotan utama dalam PISA 2025 adalah pengukuran baru untuk computational problem solving atau pemecahan masalah komputasional. Dalam laporan tersebut, Indonesia mendapatkan apresiasi dari OECD berkat peningkatan dukungan guru (teacher support) dalam pembelajaran sains. Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan peningkatan dukungan guru terbesar sejak tahun 2015.

"OCED secara eksplisit menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan peningkatan teacher support dalam pembelajaran sanis terbesar sejak 2015," demikian kutipan dalam laporan tersebut.

Selain itu, lingkungan belajar di Indonesia dinilai memiliki beberapa modal positif. Indeks disiplin kelas di Indonesia tercatat sebesar 0,47, jauh di atas rata-rata OECD yang hanya 0,14. Sekitar 78 persen siswa Indonesia juga merasa berada pada indikator rendah akan truancy atau membolos, jauh lebih baik dibandingkan rata-rata OECD yang berada di angka 66,1 persen.

Tantangan Kritis: Rendahnya Motivasi dan Keyakinan Diri

Meskipun lingkungan belajar kondusif, laporan ini menyoroti masalah serius pada aspek psikologis siswa. Sebanyak 60,9 persen siswa Indonesia masih tergolong low performer pada ketiga domain (Sains, Reading, Matematika). Hal ini berbanding lurus dengan lemahnya motivasi dan keyakinan diri.

Data menunjukkan, motivasi dan keyakinan siswa Indonesia untuk berkembang sangat lemah. Hanya 30,2 persen siswa yang memiliki growth mindset (pola pikir berkembang), jauh tertinggal dibandingkan rata-rata OECD yang mencapai 69,3 persen. Padahal, indikator keterlibatan (engagement) seperti rasa ingin tahu, penetapan tujuan, dan pencarian bantuan menunjukkan korelasi positif terhadap hasil belajar.

Ketimpangan dan Sedikitnya Talenta Puncak

Isu pemerataan juga menjadi catatan merah. Hanya 8,6 persen variasi skor sains di Indonesia yang dijelaskan oleh status sosial-ekonomi (ESCS), yang berarti ketimpangan akses masih tinggi. Meski begitu, terdapat temuan positif di mana 15,4 persen siswa disadvantaged (kurang beruntung secara ekonomi) menunjukkan resiliensi akademik yang baik.

Di sisi lain, Indonesia sangat kekurangan siswa berprestasi puncak (top performer). Hanya 0,1 persen siswa Indonesia yang berhasil mencapai Level 5/6, sementara rata-rata OECD mencapai 11,9 persen.

Peringkat dan Kesadaran Lingkungan

Secara peringkat, Indonesia berada di urutan 73 dari 31 negara di ASEAN untuk Sains (skor 389), urutan 74 untuk Reading (365), dan urutan 78 untuk Matematika (364). Untuk kemampuan baru Computational Problem Solving, Indonesia berada di urutan 62 dari 85 negara di ASEAN dengan skor 427.

Menariknya, kepedulian terhadap lingkungan menjadi poin positif. Lebih dari 90 persen siswa Indonesia menyatakan tertarik berpartisipasi dalam perlindungan lingkungan melalui pembelajaran sains. Angka ini jauh melampaui rata-rata internasional yang hanya sekitar 62 persen.

Harapan Baru

Laporan ini menutup dengan pesan optimistis. Data PISA 2025 diharapkan menjadi cermin bagi Indonesia untuk terus memperkuat kualitas pembelajaran. "Generasi Belajar Indonesia Maju" menjadi harapan agar setiap anak memiliki kesempatan yang lebih baik di masa depan.


Sumber : berbagai sumber/OECD

Lynk | Diskon Up 50%

E-learning