Saturday, April 25, 2026

Universitas Bina Bangsa Gelar Bintek Penulisan KTI: AI Bukan Pengganti Intelektualitas Peneliti

 

Foto: Foto Bersama Pembina Yayasan dan Rektor Universitas Bina Bangsa


Serang, 25 April 2026 - Auditorium Kampus 1 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Serang dipenuhi puluhan dosen, peneliti muda, dan mahasiswa pascasarjana yang antusias mengikuti Bimbingan Teknis (Bintek) Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan tema "Mengawal Integritas Akademik di Era Kecerdasan Buatan".

Hadir sebagai pemateri utama, Maulana Akbar, peneliti dari Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Acara Bintek dibuka langsung oleh Pembina Yayasan Bina Bangsa  Prof. Dr. Lr. H. Furtasan Ali Yusuf, S.E.,S.Kom.,MM., dilanjut penyematan peserta kepada perwakian dari tiap Program Studi Pascarsarjana.

Peneliti dengan publikasi di jurnal Q1 Scopus tersebut membawa pesan tegas: AI adalah pembantu yang kuat, bukan pengganti intelektualitas peneliti.


Etika AI: Transparansi, Akuntabilitas, Integritas

Dalam paparannya, Maulana Akbar mengawali dengan tiga prinsip etika AI yang disepakati komunitas akademik global, merujuk pada COPE GuidelinesIEEE Ethics, dan ACPE Guidelines on AI.

"AI tidak bisa menjadi co-author. Tidak punya tanggung jawab hukum maupun etis. Penulis manusia tetap bertanggung jawab penuh atas seluruh isi artikel, termasuk jika ada kesalahan dari output AI," tegasnya.

Tiga prinsip yang ditekankan:

  1. Transparansi & Deklarasi — Penggunaan AI wajib dinyatakan dalam Methods atau Acknowledgment, termasuk menyebutkan tools (ChatGPT, Gemini, Copilot) dan fungsinya.

  2. Akuntabilitas Penulis — Semua klaim, data, dan interpretasi harus diverifikasi penulis.

  3. Integritas & Orisinalitas — Output AI bukan karya orisinal, tidak dapat diklaim sebagai ide sendiri. Gunakan AI sebagai scaffold, bukan karya jadi.


Foto: Penyerahan Piagam Kepada Peserta

Boleh vs Dilarang: Panduan Praktis Penggunaan AI

Maulana Akbar memaparkan secara gamblang batasan etis penggunaan AI dalam KTI:

BOLEH DIGUNAKAN:

  • Parafrase & perbaikan bahasa — hasilnya wajib diedit ulang penulis.

  • Brainstorming & peta konsep — bukan sumber fakta.

  • Ringkasan literatur — setelah membaca sumber asli.

  • Pengecekan konsistensi format — daftar pustaka, tabel, penomoran.

DILARANG / BERISIKO ETIS:

  • Generate teks utuh artikel (IMRaD) — pelanggaran integritas akademik berat.

  • Fabrikasi referensi — AI sering 'mengarang' sitasi.

  • Interpretasi data tanpa validasi — jangan biarkan AI menganalisis data penelitian tanpa konfirmasi pakar.

  • Tidak mengungkapkan penggunaan AI — mayoritas jurnal Scopus/WoS kini mewajibkan deklarasi.


5 Langkah Bijak Menggunakan AI

Maulana Akbar membagikan workflow yang disarankan untuk dosen dan peneliti:

  1. Riset & outline mandiri dulu: Jangan minta AI membuat outline dari nol.

  2. Tulis draft pertama sendiri: Boleh jelek, yang penting ide asli Anda.

  3. Gunakan AI untuk poles bahasa: Review setiap kalimat yang diubah AI.

  4. Verifikasi semua klaim & fakta: AI sering hallucinate referensi.

  5. Deklarasi & cek final: Jalankan turnitin/thenticate, submit dengan keyakinan.

"Jangan skip tahap draft sendiri. Draft AI tidak memiliki nuansa konteks riset spesifik Anda," pesan Maulana.


Struktur IMRaD dan Jurnal Predator

Tak hanya soal AI, peserta juga dibekali pemahaman tentang struktur IMRaD standar internasional (Introduction 10-15%, Methods 20-25%, Results 30-35%, Discussion 25-30%).

Yang tak kalah krusial, Maulana mengingatkan bahaya jurnal predator dengan red flags:

  • Review kilat 24-72 jam (mustahil peer review serius)

  • APC sangat tinggi, tagihan setelah submit

  • Nama jurnal mirip jurnal bereputasi (typosquatting)

  • Tidak ada ISSN valid atau DOI terverifikasi

Tools verifikasi yang direkomendasikan: Think.Check.Submit., Beall's List, Scimago SJR, SINTA, dan DOAJ.


Profil Pemateri: dari BRIN untuk Akademisi Indonesia

Maulana Akbar bukanlah nama baru di dunia riset nasional. Saat ini berstatus peneliti di BRIN, ia memiliki jejak riset impresif:

  • Koordinator riset Game Research Ecosystem dan AI Fails in Indonesian Aquaculture Sector (2025)

  • Publikasi di jurnal Q1 Scopus: Information Development (2024) dan Agricultural Systems (2024)

  • Kolaborasi dengan Bappenas untuk Promoting Innovation in Blue Food Sector (2024)

  • Koordinator Digital Literacy Survey in Indonesia (2023-2024)

Dengan latar belakang pengalaman di LIPI, Katadata, hingga NXG Indonesia, Maulana membawa perspektif praktis dan akademik yang aplikatif.


Antusiasme Peserta dan Penutupan

Selama sesi tanya jawab, peserta aktif berdiskusi mengenai tantangan verifikasi referensi dari AI serta bagaimana menyusun deklarasi AI yang sesuai kebijakan jurnal internasional.

Seorang peserta dari Program Studi Manajemen mengungkapkan, "Selama ini saya menggunakan AI untuk membantu menulis, tapi tidak pernah deklarasi. Sekarang saya paham itu risiko besar."

Bintek ditutup dengan pesan utama Maulana Akbar:

"AI harus menjadi alat yang memanusiakan manusia, menghidupkan etika, dan menguatkan akademik — bukan sebaliknya."

Kegiatan ini menjadi bekal penting bagi civitas akademika UNIBA dalam menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga berintegritas di tengah gempuran teknologi AI.


Kontributor: SW

No comments:
Write komentar

Silahkan isi komentar Anda disini

Lynk | Diskon Up 50%

E-learning